Serangkaian agenda memperingati Hari Ulang Tahun Tentara Negara Indonesia (HUT TNI) yang diselenggarakan pada bulan Oktober 2014 di Markas Koarmatim Surabaya-Jawa Timur benar-benar telah menjadi lecutan bersejarah bagi TNI. Dimana TNI menampilkan keahlian dan kemampuan prajuritnya serta sebagian besar peralatan tempur utamanya. Mulai dari kapal perang, pesawat tempur, helicopter, kendaraan amphibi, tank ringan, sampai tank berat terbaru yaitu Tank Leopard.
Kehadiran alusista baru TNI Main Battle Tank (MBT) / tank tempur utama Leopard dalam parade militer besar-besaran ini telah menarik perhatian banyak pihak. Pasalnya sejak awal keberadaan kendaraan tempur ini telah mendapatkan pro dan kontra. Dengan pengadaan Leopard ini, TNI seolah ingin merevolusi kekuatan tempur daratnya, Tak tanggung-tanggung TNI membeli MBT Leopard 40 unit tipe 2A4 dan 61 unit MBT Leopard Revolution serta 50 Unit Tank Marder.
Sejumlah pengamat menilai bahwa kendaraan tempur jenis tank kelas berat ini tidak cocok dengan geografis Indonesia. Salah satu tokoh besar yang angkat bicara dalam masalah ini adalah Mantan Presiden BJ. Habibie. Beliau berpendapat bahwa pembelian MBT kurang cocok dengan kondisi geografis Indonesia yang berbasis kepulauan, selain itu strategi perang era modern saat ini telah bergeser dari pertahanan darat ke udara dan laut. Saat ini mesin-mesin perang darat misalkan MBT telah mulai ditinggalkan di Eropa, sehingga banyak kendaraan tempur sejenis yang dijual ke Negara lainnya.
Lain halnya Presiden terpilih Joko Widodo pada saat debat capres bersama Prabowo Subianto sempat melontarkan statement bahwa MBT Leopard tidak cocok dengan Indonesia, karena dapat merusak jalan dan jembatan. Entah statemen itu berdasar atau hanya lecutan sesaat yang keluar secara sepontan saja. Namun paling tidak ada point yang dapat kita tangkap bahwa pembelian MBT Leopard benar-benar menjadi isu nasional dan layak untuk dijual.
Selain isu geografis, isu kondisi alusista menjadi tantangan pengadaan MBT pertama di Indonesia ini. Kendaraan tempur yang dibeli oleh TNI ini bukanlah barang baru, melainkan barang bekas dari militer Jerman, yang telah mengalami upgrade atau rekondisi. Sehingga sebagian pengamat meragukan kondisi fisik serta update teknologi yang dimilikinya.
Hampir setiap pembelian alusista TNI isu transfer teknologi / Transfer of Technology (TOT) menjadi bahasan pokok. Tak terkecuali pada pengadaan MBT Leopard ini, Alih teknologi menjadi sangat penting dimana dengan adanya alih teknologi ini negara mendapatkan teknologi sebagai khasanah pengetahuan untuk operasional maupun pengembangan dari alusista. Produsen tentu menjaga informasi-informasi penting produknya agar tidak menyebar bahkan ditiru, mengingat alusista merupakan segmen strategis.
Terlepas itu semua TNI telah berhasil mengadakan serangkaian acara HUT TNI terutama parade militer besar-besaran sepanjang sejarah Indonesia. TNI berhasil menunjukkan kekuatan primanya kepada rakyat dan masyarakat dunia akan kehormatan bangsa. TNI berhasil pula mematahkan sebagian statemen-statemen yang beredar selama ini, terutama terkait dengan kelayakan penggunaan MBT Leopard di Jalanan kota. Lewat agenda parade besar-besaran tersebut pula TNI telah berhasil membangun kepercayaan diri dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa TNI mempunyai power untuk mempertahanakan negara kepulauan terbesar ini. (achmad)

Posting Komentar