Jember, 30 Oktober 2014. Radar Jember Jawa Pos Group menggelar acara diskusi umum yang bertema “Potensi Agropolitan dan Minapolitan yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna 99 Kantor Redaksi Radar Jember. Pada kesempatan ini Radar Jember mengundang dari kalangan pemerintah yaitu BAPEKAB yang diwakili oleh Ibu Santi, Dinas Pertanian yang dihadiri langsung oleh Kepala DInas Ir. Hari Wijadjadi, Kepala Dinas Perikatan Ir. Mahfud Affandi, Bapak Rinoto sebagai Kepala Sekolah SMKN 5 Jember, Bapak Jokowi Wibowo sebagai akademisi Politeknik Negeri Jember dan Bapak Cahyono selaku akademisi dari Universitas Brawijaya Malang sebagai pemantik diskusi dan diikuti oleh berbagai elemen yang peduli terhadap Agropolitan dan Minapolitan di Jember.
Dalam Diskusi yang dipandu oleh Bapak Hari Setiawan selaku Redaktur Radar Jember ini, Bapak Joko Wibowo sebagai akademisi memberikan penjelasan bahwa sejak 2010 telah diadakan research potensi Agropolitan dan Minapolitan di Jember. Ada beberapa real model yang bisa menjadi panutan pengelolaan Agropolitan di Jember, diantaranya agropolitan yang dikemas dalam bentuk pasar seperti pasar agropolitan yang ada di Kabupaten Lumajang dan Pasar Puspa Agro yang ada di Sidoarjo. Ada Dua Kecamatan yang mempunyai potensi besar sebagai pusat agropolitan dan Minapolitan di Jember yaitu Kecamatan Balung dan Kecamatan Ambulu. Dengan kondisi tanah yang subur, jumlah air stabil, iklim, serta infrastuktur berupa jalan dan komunikasi yang mendukung, maka kedua Kecamatan ini layak dikembangkan sebagai kawasan pengembangan agropolitan.
Dalam kesempatan ini bapak Joko Wibowo menambahkan bahwa potensi hasil bumi masyarakat Jember terutama Jeruk di Semboro bisa dijadikan sebagai icon unggulan dari konsep pasar agropolitan yang ada di Jember.
Suasana Diskusi semakin menarik ketika Bapak Cahyono yang pernah menjadi staf ahli di DPR-RI memaparkan kajiannya tentang potensi minapolitan termasuk minapolitan di Kabupaten Jember. Beliau memaparkan bahwa kajian minapolitan telah lama dipaparkan ketika Bapak Fadel Muhammad mencetuskan ide gagasannya tentang minapolitan. Bapak cahyono menambahkan bahwa konsep minapolitan tak jauh beda dengan konsep agropolitan yang selama ini lebih dikenal. ada beberapa real model yang bisa diadopsi dari agropolitan, untuk negara beliau mencontohkan China, Thailand dan Swedia. Sedangkan untuk level daerah Muncar yang berlokasi di Banyuwangi yang berkembang dari Industri Perikanan menjadi contoh kesuksesan konsep minapolitan yang selama ini ada.
Sedangkan daerah yang potensial dikembangkan sebagai kawasan minapolitan di Kabupaten Jember yaitu Kecamatan Puger. Dimana Infrastruktur, Potensi alam, Potensi Ikan Tangkap dan Ikan Budidayanya serta potensi-potensi lainnnya cukup memenuhi kriteria.
Hadir sebagai narasumber yang terakhir bapak Hari Wijadjadi sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jember, memberikan penjelasan bahwa dalam pengembangan agropolitan dan minapolitan pelaku harus memperhatikan bebarapa faktor diantaranya, faktor Sumberdaya Manusia yang siap mengelola dan menjalankan program yang ada. Serta faktor X berupa mafia, tengkulak, ataupun oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang sering menghambat jalannya program harus menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya pengembangan daerah menuju agropolitan. Selain itu pengembangan agropolitan tidak bisa bertumpu pada Kecamatan Balung dan Kecamatan Ambulu saja, melainkan pengembangan agropolitan harus komprehensif diseluruh kawasan Kabupaten Jember.
Hadir ditengah-tengah peserta diskusi Achmad Bukhori selaku pekerja sosial yang mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang syarat muatan politis. Achmad menambahkan bahwa seyogyanya kebijakan pengembangan kesejahteraan masyarakat harus didesain sedemikian rupa agar tetap survive di tengah perubahan arus politik.
Acara ditutup oleh moderator yang menyimpulkan bahwa pengembangan agropolitan dan minapolitan harus dikerjakan bersama-bersama oleh semua pihak dan berkesinambungan. Di tengah kompetisi dibidang agro dan perikanan dari negara asing, maka dibutuhkan keseriusan baik dari pemerintah pusat, provinsi maupun daerah guna memikul beban tanggung jawab menuju kesejahteraan masyarakat Indonesia. (abc)

Posting Komentar