"Sesungguhnya untuk mengemban tugas-tugasku, aku mencari orang yang mempunyai sifat-sifat mulia, "bersih" diri, dan lurus jalan hidupnya. Ia telah dididik oleh sopan santun, dan ditempa oleh pengalaman. Jika ia diberi kepercayaan terhadap tugas-tugas rahasia, ia melaksanakannya.sikap ramah membuatnya diam, dan ilmu membuatnya bicara. Waktu sesaat sudah cukup baginya, dan merasa puas dengan sepotong daging. Ia sigap seperti komandan perang, ia lemah-lembut seperti orang yang bijak, rendah diri seperti ulama dan paham seperti fuqaha'. Jika orang lain berbuat kepadanya, ia berterima kasih kepadanya. jika ia mendapatkan musibah, ia bersabar. Ia tidak menjual keuntungan hari ini dengan kemiskinan hari esok. ia mencuri hati manusia dengan keindahan tutur katanya, dan pesona penjelasannya." (Al-Makmun, dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Imam Al-Mawardi (370-450H))
PemiluLegislatif serentak 9 April 2014 telah kita lalui bersama. Pemilu memiliki arti penting dalam negara menganut sistem demokrasi, hajatan ini tidak boleh hanya dipandang sebagai proses pergantian pemimpin semata, melainkan momentum bagaimana menentukan nasib bangsa ke depan. Harapan besar ibu pertiwi berada pada pundak para Calon Wakil Rakyat untuk menyelesaikan berbagai problematika yang melanda rumah besar bangsa ini.
Pemilu kali ini bisa dikatakan sukses berkat tingginya antusiasme masyarakat, kondusifnya proses pemilihan, minimnya problem logistik dan menurunnya angka Golput disejumlah wilayah. Partisipasi masyarakat yang tinggi membuka keran optimisme akan kemajuan berdemokrasi dalam konteks kehidupan bernegara. Demokrasi yang sehat akan menciptakan pemimpin yang berkualitas, tentu dengan adanya pemimpin yang berkualitas akan berdampak pula pada kesejahteraan masyarakat.
Euforia Pemilu menjadi sorotan hampir seluruh media, berbagai hasil Quick Count (QC) ala lembaga survey bermunculan selang beberapa jam pasca pemungutan suara. Banyak lembaga survey yang merilis hasil QC dibarengi dengan analisa diatas narasi ilmiah. Sejumlah teori dengan istilah asing dikumandangkan oleh pengamat dan lembaga survey diantaranya Jokowi Effect, Rhoma Effect, NU Effect dan lain sebagainya. Sayangnya fakta di akar rumput berkata lain, masyarakat yang kian pragmatis tak lagi peduli dengan sosok ataupun gagasan yang diusung calon. Melainkan siapa yang berani dan mau memberikan duit untuk sekedar mengisi kantong kecil mereka.
Kegiatan Money Politic sebagai bentuk pembodohan secara terstruktur yang membuat masyarakat kian pragmatis. Ibarat simbiosis mutualisme model masyarakat pragmatis seperti ini yang kemudian dimanfaatkan oleh para Caleg bermodalkan duit tanpa visi dan track record yang jelas,melainkan hanya sekedar ingin memenuhi hasrat politiknya semata. Fenomena inilah yang membuat bangsa akan berjalan tertaih-tatih dimana kualitas para anggota dewan yang terpilih dipertanyakan, maka tak ayal jika kinerja anggota dewan kita kurang produktif (baca : rendah) dan berperilaku koruptif.
Sudah menjadi tradisi dimasyarakat bahwa Pemilu identik dengan program bagi-bagi duit (Money Politic). Politic Transactional tidak lagi identik sebagai permainan kaum elit semata, namun praktik ini sudah turun sampai ke akar rumput. Masyarakat kian melek politik bukan dalam artian cerdas, namun dalam arti masyarakat kian piawai menjajakan hak suaranya akibat mencontoh ulah dari para Caleg dan para elit yang terbiasa melakukan Politic Transactional.
Fenomena ini hampir terjadi merata di seluruh pelosok negeri, yang kemudian capaian suara dari praktik ini dipelintir oleh sejumlah pengamat dan elit partai sebagai fenomena atas usaha legal mereka. Praktik-praktik ini kemudian diberi istilah-istilah asing diantaranya Jokowi effect, Rhoma effect, NU Effect dan Effect-Effect yang lainnya dengan tujuan untuk membangun opini menyesatkan dimasyarakat demi popularitas dan elektabilitas semata.
Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang ideal untuk bangkit dari segala keterpurukan yang melanda. Bangsa ini tak butuh pemimpin populis, gemar belusukan tanpa progres yang berarti, tebar janji, atau hanya menggandalkan Duit Effect/kekuatan modal dari para konglomerat/pemodal semata, bangsa ini membutuhkan sosok yang siap terjun dan berperang melawan segala sumber problematika bangsa dengan “menutup mata”. Harapan besar nanti dalam Pemilu Presiden mendatang masyarakat kian cerdas dalam menggunakan hak suaranya untuk memilih pemimpin yang Kompeten, amanah, Jujur, ramah, bijak, santun, cekatan, sederhana, dan melayani "bukan dilayani" seperti yang disyarakatkan oleh Al Ma’mun demi perbaikan, pembangunan dan mengembalikan kehormatan Bangsa Indonesia.(Achmad)

Posting Komentar