![]() |
| Suasana Pelatihan FIM 13 di Wiladatika-Cibubur |
“Orang Tua Bicara Masa Lalu, Pemuda Bicara Masa Depan” - Cerita ini dimulai tahun 2012 ketika mata tertarik dari sebuah publikasi pelatihan kepemimpinan Forum Indonesia Muda (FIM) di Cibubur. Sebagai mahasiswa aktif kala itu, saya mendaftarkan diri pelatihan pemuda ini dan Alhamdulillah ditakdirkan menjadi 1 diantara 120 pemuda yang beruntung terpilih menjadi calon peserta FIM Angkatan 13 dari ribuan pendaftar.
“Angka Sial” - Forum anak muda yang menyebut dirinya kunang-kunang saat itu telah memasuki angkatan ke-13, kata orang angka 13 dinilai sebagai angka kramat. Namun kami bukanlah kelompok orang yang terjebak dalam pengkultusan angka. Terbukti 3 tahun pasca pelatihan FIM saat itu, kunang-kunang mulai nampak dan bertebaran menghiasi seantaro negeri tercinta mengisi berbagai pos-pos kontributif untuk bangsa.
“Membawa Tongkat Estafet” - Tahun 2014 saat FIM menginjak angkatan 16, entah sebab apa tetiba saya yang Fokus dengan aktivitas Kerja ditunjuk sebagai Koordinator FIM Jember (kemudian berubah menjadi FIM Jember Raya atau disingkat menjadi FIM JAYA). Beranggotakan 8 orang yang supersibuk ada Qiwe, Yanu, Dhimas, Imay, Nina, Bagus, dan Firo, kami berusaha untuk tetap eksis ditengah keterbatasan personil, waktu dan sumberdaya.
“Menyambut Tantangan” - FIM regional yang berbasis teritori dibentuk sebagai wadah bagi para alumni FIM sepulangnya dari pelatihan untuk saling menyapa, berbagi inspirasi, dan beraktualisasi di regionalnya masing-masing. Mengelola komunitas ini gampang-gampang susah, alumni FIM rata-rata dikenal kalau tidak sebagai akademisi tulen, aktivitis kampus, aktivis sosial serta orang supersibuk lainnya. Alhasil intensitas pertemuan komunitas ini menjadi sangat terbatas, syukur kalau tiap bulan bisa ketemu :D.
“Tetaplah Kunang-kunang”- Ditengah berbagai aral-rintangan itu, alhamdulillah berbagai kegiatan kontribusi bisa kita selenggarakan diantaranya, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada siswa sekolah, senam bersama siswa sekolah dsb. Rata-rata Agenda yang kami adakan bukanlah hal-hal yang berat dan mendewa seperti komunitas lainnya. Namun kami titik beratkan pada kebersamaan dan kontribusi real ke masyarakat.
![]() |
| Pelatihan PHBS bagi Siswa Sekolah di Garahan Jember |
“Jika Ada 10 Pemuda Maka akan Aku Guncang Dunia”- Forum Indonesia Muda telah menginjak angkatan 16, setelah pelatihan itu FIM Jaya mendapatkan 2 personil kunang-kunang baru. Kami pernah bermimpi jika personil FIM sudah mencapai 10 orang maka FIM Jember harus move dan go public agar keberadaannya dapat dirasakan dan menjadi inspirasi di masyarakat. Kenapa harus 10? mulanya kami terinspirasi oleh jargon bung Karno, namun tidak sema-mata karena angka. Sepuluh orang bagi kami sebagai jumlah minimum bagi pemuda model anak FIM untuk memberikan hal yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.
“Bersama Berbagi Senyum”- Seiring dengan genapnya 10 anggota FIM Jaya, pada bulan januari 2015 kami bersepakat membuat komunitas anak muda yang bergerak dalam bidang lingkungan. Komunitas itu kita beri nama Green Youth Community (komunitas pemuda hijau) atau disingkat GYC. Beberapa kali kami membuat kegiatan berbasis lingkungan. Diantaranya pelatihan eduplant di sekolah, pelatihan pembuatan keranjang takakura, tanaman vertikultur, dan aksi sosial lainnya. Dengan adanya komunitas GYC kami menaruh harapan sederhana, yaitu kami ingin berbagi senyum bagi lingkungan sekitar.
![]() |
| Peserta Edukasi Berkebun GYC di SMP 14 Jember |
“Sejarah memang Berulang” - Entah sebab apa, pelatihan FIM 17 Tahun 2015 seolah kembali mengulang sejarah seperti halnya angkatan 12 dan 13, perwakilan Jember kembali sebagai single fighter atau calon tunggal. FIM 17 ini juga penuh dengan lika-liku, dua hari sebelum pelatihan kami mendapat kabar jika Capes satu-satunya berhalangan hadir dikarenakan sakit dan menumpuknya jadwal kuliah akibat agenda diluar negeri. Tentu ini bukan kabar mengenakkan bagi kami para punggawa FIM Jember Raya, mengingat 2015 adalah tahun sebagian besar anggota regional ini lulus kuliah dan biasanya tradisi mahasiswa Jember akan pulang kampung atau berdiaspora ke kota lain. Menjadi kekhawatiran kondisi seperti ini mengubur perjuangan yang telah dibangun FIM Jaya selama ini.
“Bukan Pemuda Kalau Menyerah” - Namun akhirnya usaha dan doa kami membuahkan hasil, muncul sosok pemudi terbaik yang menjadikan semangat sebagai ciri khasnya :D. Pemudi itu bernama Nurul Fitriah atau biasa kami sapa dengan NuPit ketua salah satu UKM Fakultas Farmasi Universitas Jember. Dengan kegigihan dan perjuangannya sampailah pemudi itu di Wiladatika-Cibubur tempat anak muda terpilih mengikuti pelatihan FIM 17.
“Saatnya yang Muda Berkarya” - Tak bisa disebut sehat bila komunitas gagal move on karena individu. FIM 17 memiliki arti tersendiri bagi kami, yaitu sebagai penanda bahwa FIM Jaya, sudah saatnya melakukan reformasi struktural. Akhirnya melalui musyawarah lebih tepatnya ngopi bareng/ gathering khas FIM Jaya, terpilihlah Dani Setiawan sebagai Koordinator dan Amelia Nandya sebagai Wakil Koordinator Forum Indonesia Muda Regional Jember Raya yang baru.
Seiring dengan munculnya dua punggawa FIM Regional Jaya maka purnalah tugas sebagai koordinator, namun bukan berarti telah purna dari kontribusi. Tantangan hidup telah menanti, mohon maaf bila tangan kecil ini terlalu jauh dari kesempurnaan. Sukses selalu buat FIM Jaya dan anak muda di seantaro negeri.
“Kunang-kunang bukanlah Matahari yang mendominasi terangnya siang, namun kunang-kunang bersama memberikan secercah harapan dalam pekatnya kegelapan”.
Surabaya, 22 Mei 2015
Achmad Bukhori
![]() |
| Pelatihan FIM 13 di Taman Bunga Wiladatika-Cibubur |




Posting Komentar